1. SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA

A.  Mengutuhkan Jiwa-Jiwa Manusia Indonesia









 

“Marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama : Kebangsaan Indonesia, Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia . . . .

. . .Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justeru inilah prinsip saya yang kedua” (Soekarno)

Untuk dapat berbahasa persatuan terlebih dahulu harus dimulai dari jiwa yang utuh, karena jiwa yang utuh di mana-pun dan kapanpun akan dapat berbicara tentang persatuan, hanya jiwa yang utuh yang dapat melihat persatuan dan kesatuan di balik perbedaan. Mpu Tantular sudah jauh-jauh hari menemukan hal tersebut  “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang kemudian digali kembali oleh bung Karno dan kemudian dijadikan falsafah bangsa.

Jiwa bung Karno sudah utuh dan beruntunglah bangsa kita karena mendapatkan pemimpin yang utuh jiwanya sehingga dapat membawa bangsa ini pada persatuan, pemikiran bung Karno saat ini menjadi pemikiran dunia, di mana saat ini dunia sedang memikirkan cara untuk mempersatukan bangsa-bangsa sehingga dapat terjalin kerjasama antar bangsa-bangsa  sehingga dapat tercapai kesejahteraan bersama. Namun semua pemikiran tentang kesatuan antar bangsa itu menjadi percuma ketika di dalam negeri sendiri tidak ada kesatuan, oleh karenanya bung Karno mengatakan mari kita membangun Kebangsaan Indonesia yang bulat terlebih dahulu, baru kemudian menuju kepada persatuan antar negara-negara menjadi keluarga besar dunia.

B.  Nasionalisme Menuju Internationalisme

“Karena itulah, maka kita bangsa Indonesia merasa bangga mempunyai Pancasila, dan menganjurkan Pancasila itu kepada semua bangsa. Pancasila adalah satu dasar universal, satu dasar yang dapat dipakai oleh semua bangsa, satu dasar yang menjamin kesejahteraan dunia, perdamaian dunia, persaudaraan dunia” (Soekarno)

Membangun Kebangsaan Indonesia yang bulat itulah terlebih dahulu yang harus dilakukan oleh bangsa ini jika ingin mendapatkan peran di dalam dunia International, kita tidak akan dapat berbicara di dunia international tentang kesatuan antar bangsa-bangsa jika di dalam negeri sendiri masih terjadi perpecahan, masih terjadi pengkotak-kotakan manusia ke dalam golongan ras, warna kulit dan agama.

Untuk itu hal pertama yang perlu dibangun adalah keutuhan jiwa manusia Indonesia, di dalam lagu kebangsaan selalu dikumandangkan prinsip dasar ini :

“Hiduplah tanahku,

Hiduplah neg’riku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.”

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Bangunlah Jiwanya, jiwa-jiwa manusia Indonesia harus dibangunkan dahulu, jiwa-jiwa manusia Indonesia harus disadarkan terlebih dahulu sehingga dapat menjadi utuh dan dapat melihat kesatuan di balik perbedaan. Teringat perkataan St Takdir Alisjahbana “Indonesia Muda yakin seyakin-yakinnya, bahwa tinggi rendahnya vonis sejarah atas dirinya bukan bergantung pada berapa memuji dan memuja, berapa ia menghormati dan meniru yang lama, tetapi ialah pada apa yang dibangunkannya, yang lahir dari dasar jiwanya sendiri yang setara atau melebihi zaman yang lampau”.

Jiwa-jiwa manusia Indonesia harus  terbentuk menjadi satu kebangsaan yang bulat, kebangsaan Indonesia. Keutuhan tersebut akan dapat menunjang pembangunan fisik (materi) secara lebih cepat dan terarah. Karena jiwa-jiwa yang utuh akan melihat persatuan sehingga pembangunan yang dilakukan akan berorientasi pada kemakmuran bersama. Saat ini apa yang kita upayakan adalah sepenuhnya pada pembangunan fisik (materi) namun apa kemudian yang terjadi, jiwa-jiwa yang belum terbentuk ini saling berbenturan dan terjadi pergolakan. Terjadi letupan-letupan yang didasari oleh perbedaan ras, warna kulit dan agama. Benturan-benturan tersebut, letupan-letupan tesebut disebabkan ketidak utuhan jiwa yang tidak mampu melihat persatuan sehingga ketika bersinggungan dengan perbedaan terjadi friksi yang kemudian diselesaikan lewat jalur kekerasan. Kemudian semua itu terbentuk dan terjadi pemakluman, sehingga tidak ada lagi kebebasan dalam mengapresiasikan keyakinan beragama, semua harus seragam. Penyeragaman ini adalah merupakan bukti dari tidak utuhnya manusia-manusia Indonesia saat ini.

Ketidak utuhan jiwa-jiwa ini yang kemudian menghambat pertumbuhan dan perkembangan bangsa secara kolektif, bangsa Indonesia saat ini berkutat dengan permasalahan yang sama dari tahun ke tahunnya yaitu kekerasan atas nama agama. Pembungkaman para tokoh-tokoh yang menyuarakan semangat berkebangsaan dan pluralisme adalah sebuah bentuk dari ekspresi  ketidakmampuan jiwa-jiwa yang tidak utuh ini dalam mengapresiasi perbedaan. Dengan kondisi terkotakan dan picik seperti ini kita sebagai bangsa tidak akan pernah dapat berbicara dan mengambil peran di dalam dunia International, oleh karenanya kita sebagai bangsa harus kembali kepada pemikiran bapak bangsa Soekarno :

“Marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama : Kebangsaan Indonesia, Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia . . . .

. . .Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justeru inilah prinsip saya yang kedua”

Sehingga kita dapat berbicara di dunia International dengan terlebih dahulu membangun semangat nasionalisme dan baru kemudian menuju semangat Internalionalisme. Bung Karno meyakini akan hal tersebut dan kita dapat pula mewarisi keyakinan tersebut dengan cara :

C.  One Earth, One Sky, One Humankind

One Earth, One Sky, One Humankind adalah Visi dan Misi yang diusung oleh Anand Krishna seorang tokoh spiritual lintas agama di Indonesia yang cukup berani dalam menyuarakan suara kebangsaan, mengajak setiap elemen bangsa untuk mewujudkan semangat berkebangsaan yang utuh dengan cara membentuk jiwa-jiwa manusia Indonesia menjadi utuh, dan untuk itu harus dimulai dari diri sendiri.

Lao Tzu pernah mengatakan : “Jika mau ada kedamaian di dunia, harus ada dulu kedamaian di bangsa-bangsa. Jika mau ada kedamaian di bangsa-bangsa, harus ada dulu kedamaian di kota-kota. Jika mau ada kedamaian di kota-kota, harus ada dulu kedamaian di RT-RT.  Jika mau ada kedamaian di RT-RT, harus ada dulu kedamaian di keluarga-keluarga. Jika mau ada kedamaian di keluarga-keluarga, harus ada dulu kedamaian di setiap hati para anggotanya” Dan semua itu harus dimulai dari diri sendiri !.

Anand Krishna memulainya dengan praktek pemberdayaan diri lewat meditasi untuk menumbuhkan kesadaran akan kesatuan, kesadaran yang diperoleh lewat meditasi itu kemudian diaplikasikan lewat karya nyata untuk membangun negeri.

“Hiduplah tanahku,

Hiduplah neg’riku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.”

Dengan mengupayakan perubahan dari diri sendiri dengan cara memperbaiki kesadaran maka perubahan itu sedang terjadi dan sedang menuju pada perubahan secara kolektif.  Dan visi One Earth , One Sky, One Humankind menjadi sangat relevan dan nyata sebagai sebuah solusi bagi kesatuan nasional dan international.

D.  Membangun Kesadaran Berketuhanan Yang Maha Esa

“…mendidik jiwa baru  yang akan menjadi pusat, menjadi motor daripada kebudayaan baru, yang suatu cabang daripada kebudayaan International sekarang” (St. Takdir Alisjahbana)

Menyadari akan hal tersebut Anand Krishna kemudian mencoba untuk membangunkan jiwa-jiwa manusia Indonesia mulai sejak usia dini dengan cara mendirikan sekolah yang menitikberatkan pada pendidikan holistik. Pendidikan holistik sejak dini diperlukan untuk membentuk karakter putra dan putri  Indonesia sehingga dapat menjadi pribadi-pribadi yang utuh. Bagi manusia modern, Anand Krishna menempuh jalur unik dengan mendirikan padepokan di tengah-tengah kota di bilangan Sunter sebagai tempat untuk manusia-manusia modern mengolah diri, menumbuh kembangkan kesadaran lewat praktek meditasi agar menjadi pribadi-pribadi yang utuh.

Pribadi-pribadi yang utuh ini akan saling berinteraksi lewat karya-karya nyata membangun negeri, karya-karya nyata ini lah kemudian yang akan membantu terbentuknya kesadaran manusia Indonesia secara kolektif. Namun lagi-lagi kesadaran secara kolektif ini baru dapat dibentuk dan ditularkan jika para individu mengambil langkah awal terlebih dahulu dengan cara memberdaya diri, melakukan perubahan terhadap dirinya sendiri. Tidak ada yang dapat merubah seseorang terkecuali orang itu sendiri yang berniat untuk merubah dirinya sendiri, melalui praktek-praktek meditasi Anand Krishna menawarkan solusi untuk pembentukan jiwa-jiwa manusia Indonesia agar menjadi utuh.

Dengan kesadaran seperti itu manusia Indonesia akan dapat menerima setiap ajaran agama sebagai bentuk jalan menuju Tuhan, pertentangan dan pertikaian tentang keagaman dapat diselesaikan dengan baik karena adanya kesadaran bahwasanya yang berbeda-beda itu adalah satu adanya, bahwasanya  Tuhan Maha Esa AdaNya, dan hal ini sejalan dengan Pancasila sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,

Manusia Indonesia masa lalu lebih beruntung jika dibandingkan manusia modern masa kini, karena manusia masa lalu memiliki mpu Tantular, memiliki Soekarno yang memahami ke-Esa-an Tuhan, sehingga dapat membentuk jiwa putra-putri pertiwi menjadi manusia yang utuh. Berbeda dengan tokoh-tokoh kita saat ini yang sibuk dengan pembahasaan akan perbedaan, dan kian hari para tokoh kita ini kian memperuncing jurang perbedaan, tujuan mereka satu menyeragamkan manusia Indonesia sesuai dengan konsep mereka tentang manusia ideal berdasarkan referensi dan pemahaman yang sempit. Kesempitan pikiran para tokoh inilah yang kemudian memperparah kondisi Indonesia sehingga terancam disintregasi dan tidak pernah dapat bergerak maju untuk  mensejajarkan diri dengan negara-negara lain di ranah international. Mari kita renungkan pencapaian kesadaran bung Karno tentang ke-Esa-an Tuhan :

“Tuhan ghoib, yes, ghoib, tidak bisa engkau lihat. Tetapi Tuhan bukan satu persoon, satu person lijke God yang bersinggahsana di langit ke 7. Tuhan adalah satu zat yang meliputi seluruh alam ini, bukan hanya di sana, di mana-mana, tetapi Esa. Satu, Tuhan ada di puncak gunung, yes. Tuhan ada di langit, di balik sana daripada awan, yes.

Tuhan ada di dalam dasarnya laut, yes . Tuhan ada di sana sebelah sana daripada Eropa, yes. Tuhan ada di sana, di sebelah sana daripada bintang Venus, yes. Tuhan ada di dalam bintang Bima Sakti, yes. Di mana-mana Tuhan, tapi Satu”

Kesadaran akan keesaan Tuhan akan mempermudah keberlangsungan hidup bernegara, di mana negera tidak harus dipusingkan dengan membuat peraturan yang berlapis-lapis yang tidak pernah dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang memiliki kesadaran tahu bersikap, tahu bagaimana menempatkan dirinya. Peraturan hanya diperlukan sebagai fasilitator untuk mempermudah kehidupan, dan bukankah agama diturunkan juga untuk mempermudah kehidupan di dunia ini ?

Orientasi kita terhadap semangat kebangsaan harus segera kita rubah jika ingin melanjutkan pembangunan bangsa ini sesuai dengan cita-cita bapak Bansga. Kita tidak bisa! dan tidak boleh! mewarisi budaya kekerasan kepada anak cucu kita, TIDAK ! Kita harus segera berubah ! tidak ada cara lain jika Indonesia ingin tinggal landas maka pembangunan jiwa-jiwa manusia Indonesia harus segera dimulai, sekarang dan saat ini juga! sehingga dapat terciptanya kesadaran kolektif di dalam berbangsa dan bernegara, sekaligus mencapai apa yang menjadi mimpi, apa yang menjadi cita-cita bapak bangsa kita : menjadikan Indonesia negeri yang makmur bagi penduduknya.

“Hiduplah tanahku,

Hiduplah neg’riku,

Bangsaku, Rakyatku, semuanya,

Bangunlah jiwanya,

Bangunlah badannya,

Untuk Indonesia Raya.”

Untuk itu satu-satunya jalan adalah dengan mengembalikan Pancasila ke dalam setiap unsur kehidupan berbangsa dan bernegara.

E.  Landasan Manusia Indonesia Baru Yang Utuh Dan Sempurna

“Indonesia Baru sadar betul bahwa landasan kuat di mana ia dapat berdiri teguh adalah “ketuhanan” Tuhan yang menjadi Tujuan Tunggal semua agama. Agama-agama yang beragam memiliki satu tujuan yang sama yaitu Tuhan!” (Anand Krishna)

Soekarno berbicara tentang hal yang serupa, nilai-nilai ketuhanan  teraplikasi ke dalam nilai-nilai kemanusiaan dan terwujud di dalam kehidupan sehari-hari sehingga akan timbul peradaban kemanusiaan yang berdasarkan cinta kasih. Peradaban kemanusiaan yang berdasarkan cinta kasih inilah yang kemudian melahirkan nilai-nilai keluhuran sebagi pedoman berkehidupan dan hanya nilai-nilai keluhuran seperti ini yang dapat kita bagikan kepada dunia International, jika hal ini dapat kita wujudkan maka cita-cita bapak bangsa kita menjadikan Indonesia sebagai mercusuar dunia dapat tercapai. Leluhur kita sudah pernah mencapainya lewat Sriwijaya dan Majahpahit. Saatnya kita mencapainya melalui Indonesia.

St. Takdir Alisjahbana menegaskan “Sesungguhnyalah pekerjaan membangunkan bangsa menghendaki syarat-syarat yang lebih penting: manusia bangsa itu sendiri satu per satu mesti tumbuh , tumbuh ke segala penjuru arah”. Dan ini adalah tugas kita bersama, tugas putra dan putri Indonesia untuk menjadikan Indonesia lebih baik, untuk menjadikan dunia lebih baik dengan cara menumbuhkan kesadaran di dalam diri kita masing-masing sehingga dapat membentuk jiwa-jiwa yang utuh.

“…Kami insyaf akan pertanggungan-jawab kami terhadap masa depan semua bangsa, dan kami dengan gembira menerima pertanggungan-jawab itu. Bangsa saya berjanji pada diri sendiri untuk bekerja mencapai suatu dunia yang lebih baik. Suatu dunia yang bebas dari sengketa dan ketegangan.

… di mana anak-anak kita dapat tumbuh dengan bangga dan bebas… di mana keadilan dan kesejahteraan untuk semua orang” (Soekarno)

*

Bersambung







Butuh Hosting Murah? Dapatkan Paket Hosting Murah Untuk Kebutuhan Bisnis Online, Harga Mulai Dari RP. 100 RIBU per tahun [Hosting Murah]


Jasa Pembuatan Website Murah? Butuh Website? Dapatkan Paket Pembuatan Website Murah Harga Mulai Rp. 299 RIBU. Sudah Berpenglaman Sejak Tahun 2007, Dengan Jumlah Klien Dari Jakarta Hingga Papua [Web Design Murah]