“Para pendiri bangsa kita adalah orang-orang tercerahkan. Para spiritualis yang tak lagi terkotak-kotak oleh perbedaan wujud. Mereka mengakui adanya perbedaan, tapi mereka dengan jelas mampu melihat persatuan di baliknya. Mereka sadar bahwa Indonesia yang kokoh harus dibangun di atas spiritualitas universal, diatas Cinta, Kasih” (Anand Krishna)
- Buku SEO Terbaik
- Buku Rahasia Cara Buat Website Harga Jutaan
- Buku ChatGPT Untuk Digital Marketing
- Buku Google Ads Untuk Pemasar Digital
- Buku Filmora Solusi Belajar Editing Video
- Buku Editing Video di Andoid
Buku Bagus:
Sejak Dinasti Sriwijaya nenek moyang kita sudah berhubungan dengan pihak-pihak asing, terjadi interaksi perdagangan hingga budaya namun semua interaksi tersebut tidak mempengaruhi karakter Sriwijaya sebagai suatu bangsa yang terbuka, hal ini disebabkan karena kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang berdaulat yang memiliki kebudayaan luhur. Leluhur negeri ini sudah memiliki kebudayaan luhur yang membentuk karater penduduknya, leluhur negeri ini sudah berketuhanan banyak sekali peninggalan sejarah yang membuktikan akan hal tersebut.
Nenek moyang kita sudah mengenal demokrasi yang jauh lebih cocok untuk dipergunakan di negeri ini jika dibandingkan dengan demokrasi ala Barat karena demokrasi yang dipergunakan oleh nenek moyang kita adalah demokarasi berazaskan musyawarah dan mufakat. Bukan berdasarkan keputusan voting, karena ketika demokrasi berazaskan voting akan terjadi adu kekuatan terbuka. Di mana pihak-pihak yang berhadapan akan menggunakan segala macam cara untuk untuk mencapai tujuannya termasuk mengorbankan masyarakat akar rumput. Para pemimpin negeri pada masa lalu lebih menyadari tujuan berbangsa dan bernegara adalah untuk memberikan kesejahteraan untuk semua, para pemimpin kita tersebut menyadari hak dan kewajibannya dalam memegang kekuasaan dan berupaya untuk memakmurkan negeri yang di pimpinnya. Kita bisa melihat hal tersebut pada dongeng-dongeng masa lalu yang selalu menceritakan tentang kesejahteraan, di mana kesejahteraan merupakan cita-cita yang sedang diwujudkan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lahirlah kerajaan-kerajaan besar yang keharuman namanya masih semerbak hingga saat ini seperti Sriwijaya, Mataram dan Majahpahit.
Oleh sebab itu Bung Karno sebagai penggagas Pancasila mengatakan bahwa Pancasila ini adalah merupakan hasil galiannya bukan merupakan hasil temuannya. Hasil galian Bung Karno yang kemudian terumus ke dalam 5 butir mulia yang kita sebut dan kenal dengan PANCASILA adalah merupakan bukti bahwa leluhur kita sudah mencapai suatu kebudayaan yang tinggi dan mulia.
5 Butir yang tekandung di dalam Pancasila sudah mencakup seluruh aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara, yaitu :
1) Ketuhanan dan Keagamaan
2) Kemanusiaan atau nilai-nilai Prikemanusiaan
3) Kebangsaan atau kebanggan terhadap kearifan lokal (kearifan nenek moyang)
4) Kedaulatan Rakyat dan Kepemimpinan yang Bijak
5) Kesejahteraan dan Keadilan sosial
Budaya Sebagai Perekat Bangsa
“Kebangsaan Indonesia sudah ada semenjak dahulu kala. Sekarang dirasai dan diwujudkan” (Sanusi Pane)
Apa yang kita lihat akan kejayaan masa lalu adalah di karenakan adanya sebuah perekat yang mampu menyatukan perbedaan yang ada sehingga setiap individu mampu bekerja sama untuk satu tujuan yang sama yaitu memakmurkan negeri, gotong royong adalah semangat yang mampu menyatukan semua individup untuk membangun negerinya.
Namun saat ini kita dapat melihat persatuan yang sudah dibangun oleh Bapak Bangsa tengah dikoyak dengan berbagai macam isu namun yang paling mendasar adalah isu agama. Ada kekuatan-kekuatan yang berupaya untuk memaksakan budaya-budaya asing yang berasal dari negeri asing untuk digunakan di negeri ini dengan kemasan agama, tentu saja hal tersebut akan menyebabkan benturan disana-sini, kemudian benturan-benturan tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memang ingin mengambil keuntungan dari situasi perpecahan, perbedaan kian diperuncing yang pada akhirnya kemudian terjadi perpecahan dan keuntungan menjadi milik mereka.
Ki Hajar Dewantara coba mengatakan bahwa Pancasila adalah saripati budaya bangsa, di dalam saripati inilah bertemunya budaya-budaya daerah. Landasan budaya seperti inilah yang seharusnya menjadi landasan bagi negeri kita dalam berbangsa dan bernegara. Tiada landasan yang sekuat dan se-erat landasan budaya, budaya Amerika adalah budaya konsumerisme. Konsumerisme itulah yang kemudian menyatukan dan memperat mereka sebagai suatu bangsa, Lain Amerika, lain Indonesia. Pertemuan antara akal budi dan nilai-nilai kemanusiaan itulah yang disebut budaya. Budaya bukan adat istiadat, budaya selalu berkembang mengikuti jamannya.
Istilah budaya adalah merupakan dua kata buddhi dan hridaya, orang yang berbudaya adalah orang yang berbudi baik dan memiliki rasa, budaya adalah merupakan pikiran yang dikawinkan dengan rasa yang diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, leluhur bangsa ini sudah memiliki kebudayaan luhur yang menjadi perekat kesatuan dan persatuan. Ki Hajar Dewantara menjelaskan lebih lanjut tentang makna budaya, “menurut perkataannya, maka kebudayaan berarti “buah budi” manusia dan karenanya baik yang bersifat lahir maupun batin, selalu mengandung sifat-sifat keluhuran dan kehalusan atau keindahan, etis dan estetis yang ada pada hidup manusia pada umumnya.
Menurut timbulnya atau terjadinya maka kebudayaan adalah hasil perjuangan manusia, yakni perjuangannya terhadap segala kekuatan “alam” yang mengelilinginya, dan segala pengaruhnya “zaman” atau masyarakat yang kedua-duanya – alam dan jaman tersebut – menyebabkan terus menerus bergantinya “bentuk dan ”si” kebudayaan di dalam hidupnya tiap-tiap bangsa”.
Pencabutan budaya dari kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sebuah upaya untuk menghancurkan sebuah bangsa dengan cara halus, dan saat ini upaya-upaya tersebut sedang terjadi. Dapat dilihat dari upaya-upaya penggantian landasan bernegara dengan menggunakan landasan Agama. Agama memang dapat berperan sebagai penghalus nilai-nilai kemanusiaan di dalam diri manusia, namun tidak dapat dipergunakan sebagai landasan bernegara. Karena jika menggunakan landasan agama akan terjadi penyeragaman, dan penyeragaman ini akan mematikan keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dr. M.Amir mengatakan “Setiap bangsa harus beriktiar mempertahankan kebudayaan sendiri yang telah berurat berakar dalam jiwanya.
Ia hanya boleh memakai zat peradaban dunia. . . yang serasi dengan jiwanya”
Pancasila menerima keberagaman sebagai sebuah dasar, sebagai sebuah pondasi. “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Oleh karenanya kita semua sebagai anak negeri yang menginginkan negeri ini tetap berdiri dan bersatu kita harus menertejemahkan / menjabarkan Pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara.
“. . . kita di Indonesia ini harus . . . meluaskan . .. bukan mengubah dasar kebudayaan kita” (Sanusi Pane)
Bersambung . . . . . . .
Butuh Hosting Murah?
Dapatkan Paket Hosting Murah Untuk Kebutuhan Bisnis Online, Harga Mulai Dari RP. 100 RIBU per tahun [Hosting Murah]
Jasa Pembuatan Website Murah?
Butuh Website? Dapatkan Paket Pembuatan Website Murah Harga Mulai Rp. 299 RIBU. Sudah Berpenglaman Sejak Tahun 2007, Dengan Jumlah Klien Dari Jakarta Hingga Papua [Web Design Murah]Related Posts via Categories












