Nadia masih menyimpan sebuah foto yang sudah mulai menguning. Foto kecil itu dicetak dari sebuah kios foto di dekat stasiun, dengan warna yang sedikit terlalu terang. Di dalam foto itu, Nadia dan Hendro sedang tertawa. Hendro merangkul bahunya. Nadia memegang dua gelas kopi.
Di belakang mereka ada laut, langit sore, dan sebuah perahu kecil yang tampak seperti noda hitam di kejauhan. Mereka terlihat bahagia. Terlalu bahagia untuk dua orang yang pada akhirnya tidak bisa saling mempertahankan.
- Buku SEO Terbaik
- Buku Rahasia Cara Buat Website Harga Jutaan
- Buku ChatGPT Untuk Digital Marketing
- Buku Google Ads Untuk Pemasar Digital
- Buku Filmora Solusi Belajar Editing Video
- Buku Editing Video di Andoid
Buku Bagus:
Selama hampir setahun setelah mereka berpisah, Nadia menyimpan foto itu di laci meja.
Tidak pernah dipajang. Tidak pernah dibuang.
Setiap kali membuka laci untuk mengambil sesuatu, matanya selalu sempat jatuh ke foto tersebut.
Kadang ia mengambilnya. Memandangnya.
Lalu memasukkannya kembali.
Luka itu memang sudah kering, tetapi bekasnya belum hilang. Masih terasa hingga sekarang.
Sebelum semuanya berakhir, Nadia pernah percaya bahwa Hendro adalah pilihan untuknya.
Setiap kali bertemu, Hendro selalu mengantar Nadia pulang sebelum malam terlalu larut. Kadang mereka duduk berdua di teras rumah Nadia, berbicara sampai ibunya memanggil dari dalam agar Nadia tidak tidur terlalu malam.
Sesekali mereka bertemu di sebuah kedai kecil dekat kantor Nadia. Kadang hanya untuk makan malam.
Kadang hanya untuk saling bercerita tentang hari yang melelahkan. Mereka punya kehidupan masing-masing. Tetapi di antara kesibukan itu, ada satu ruang yang selalu mereka sisakan untuk satu sama lain.
Hendro pandai membuat masa depan terdengar seperti sesuatu yang sudah hampir mereka miliki.
“Kalau nanti sudah cukup uang, “katanya suatu sore ketika mereka duduk di sebuah kedai kopi,
“Aku mau punya rumah sendiri “sambungnya.
Nadia tersenyum, sambil bertanya “Rumah sendiri?. “
“Iya.” Jawab Hendro dengan senyum merekah
“Terus?” tanya Nadia membalas senyuman
“Kita cat warna putih.”
“Kenapa putih? “tanya Nadia sambil mengerenyitkan mata.
“Biar kelihatan mahal. “
Nadia tertawa.
Hendro ikut tertawa.
Pelayan datang membawa dua mangkuk mi dan sepasang gelas es teh manis. Mereka makan sambil membicarakan hal-hal kecil.
Tentang pekerjaan.
Tentang harga rumah yang semakin tidak masuk akal.
Tentang rencana liburan.
Tentang pernikahan yang suatu hari nanti mereka lakukan.
Hendro tidak pernah menjanjikan sesuatu dengan cara yang berlebihan.
Ia hanya terus mengatakan hal-hal kecil tentang masa depan sampai Nadia mulai menganggap masa depan itu sebagai sesuatu yang pasti.
Beberapa bulan kemudian, mereka pergi ke laut.
Mereka naik kereta pagi-pagi, menempuh perjalanan cukup jauh dari stasiun, lalu duduk di pinggir pantai sambil makan nasi bungkus yang mereka beli di stasiun.
Menjelang pulang, Hendro mengajak Nadia berfoto.
“Buat apa? “tanya Nadia.
“Buat nanti.” Sahut Hendro, sambil mendekat.
“Nanti apa?,” Nadia ingin tahu.
“Nanti kalau kita sudah tua.”
Hendro mengambil foto dengan kamera ponsel, lalu tertawa melihat hasilnya.
“Jelek…..” gumamnya
“Mana sini?.”
Nadia merebut ponsel tersebut, “Coba lihat.”
Foto itu memang terlihat lucu.
Rambut Nadia tertiup angin.
Hendro menyipit karena cahaya matahari.
Tetapi mereka tertawa. Tawa yang lepas. Keduanya sangat bahagia.
Beberapa hari kemudian Nadia mencetak foto itu.
Dan ia menyimpannya.
Tanpa tahu bahwa suatu hari nanti, foto itu akan menjadi satu-satunya benda yang tidak sanggup ia buang.
Waktu berjalan, merajut hari. Kehidupan terus bergerak dan berubah. Begitu pula dengan cerita cinta keduanya. Cinta membuat seseorang mengenali hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap penting oleh orang lain. Tetapi cinta memahami isyarat tubuh yang tidak biasa, dan Nadia mulai merasakan sesuatu yang tidak semestinya.
Nadia hafal cara Hendro minum kopi—tanpa gula kalau sedang banyak pikiran, satu sendok gula kalau sedang senang.
Ia tahu kapan laki-laki itu sedang benar-benar lelah dan kapan hanya ingin dibiarkan sendiri.
Karena itulah perubahan kecil dari prilaku Hendro yang terjadi secara berulang terasa mulai menganggunya.
Sesuatu yang sederhana, namun tidak lajim. Seperti, telepon yang selalu dibalik layarnya.
Pesan yang dibaca sembunyi-bunyi, rasa yang kian berjarak.
Pertemuan yang semakin jarang. Pekerjaan sering kali dijadikan alasan untuk membatalkan janji.
Dan suatu hari, ketika Nadia bertanya kenapa Hendro tidak lagi banyak bercerita tentang rencana mereka, laki-laki itu hanya menjawab, “Capek, Nad.”
Hanya itu jawaban dari lelaki yang selama ini dikenalnya hangat.
Nadia hanya bisa mengangguk.
Ia tidak memaksa. Tidak ingin memaksa. Meski ada tanya yang terus mengusik.
Itulah kesalahannya.
Atau mungkin bukan kesalahan.
Mungkin ia hanya terlalu percaya kepada orang yang dicintainya. “Mungkin ia benar-benar sedang capek,” gumamnya dalam hati.
Sampai suatu malam secara tidak sengaja Nadia menemukan tiket kereta di saku jaket Hendro . Ada dua tiket dengan tujuan yang sama.
Nadia kemudian bertanya,
“Ini tiket apa?.”
Hening, Hendro tak mampu berkata. Tenggorokannya terasa serak.
“Pergi sama siapa?!,” tanya Nadia lagi dengan nada lebih tinggi dan sorot mata tajam yang menujuk.
Hendro tidak menjawab. Tidak mampu menjawab. Ia hanya mampu menarik nafas dalam.
Kembali hening, Hendro diam berkutat dengan pikirannya sendiri.
Nadia sudah tahu jawabannya.
Ada seseorang.
Ada perempuan lain.
Nadia terus mendesak.
Dan Hendro mengaku, melalui penuturannya. Memang ada orang ketiga. Mereka bertemu pada suatu malam di sebuah taman kecil dekat rumah Nadia secara tidak sengaja.
Nadia bangun dari duduknya, mengambil gelas kopi dari meja.
Hendro menarik napas panjang.
“Aku nggak bermaksud nyakitin kamu!,“ ucapnya.
Nadia menatapnya.
Kalimat itu terdengar seperti permintaan maaf yang sudah terlambat bahkan sebelum selesai diucapkan.
“Kalau nggak bermaksud…… “ ada sesak yang naik, suaranya terhenti. Beberapa saat kemudian, Nadia kembali berkata. “Kenapa kamu tetap melakukannya?.” Tanya Nadia tajam.
Ingin sekali Nadia menyiramkan isi gelas ditanganya itu ke wajah Hendro, namun dia tidak tega. Tetap ia genggam gelas itu ditangannya.
Hendro tidak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa.
Kemudian pertangkaran itu ditutup dengan diam, Hendro pulang. Nadia masuk ke dalam rumah, dan di dalam kamarnya dia menangis.
Itu adalah saat terakhir mereka bersama. Keduannya saling diam, tidak ada kata sapa. Tidak ada yang menjelaskan dan tidak ada yang meminta penjelasan. Hanya diam dengan perasaannya masing-masing.
Hingga Nadia melihat unggahan di media sosial Hendro beberapa hari kemudian. Ia diberitahu oleh seorang teman, “Kamu sudah putus sama, Hendro?.” Tanya Diah.
“Hah?!,” Nadia kaget, “Memang Kenapa?.”
“Lihat ini!.” Diah menyodorkan ponselnya.
Foto Hendro terpampang, ia sedang berdiri di sebuah pantai, bersama perempuan lain. Keduanya tersenyum dengan bahagia. Mata Nadia membaca caption yang bertuliskan, “Akhirnya kami bersama.”
Dadanya terasa sesak, dunia terasa berhenti berputar. Dan airmatanya tumpah.
Melihat itu, secara spontan Diah berujar. “Anjing, dia selingkuh!.”
Setelah kejadian itu Nadia berusaha untuk tetap menjalani hidup seperti biasa. Nadia kembali bekerja.
Menangis. Tidur. Bangun. Dan kembali menangis. Kemudian kembali berkerja, dengan senyum di wajahnya.
Orang-orang di kantor mengira ia sudah baik-baik saja karena ia sudah bisa tertawa lagi. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali melihat pasangan di halte Trans Jakarta, dadanya terasa sesak. Mereka tidak tahu bahwa Nadia masih sering membuka percakapan lama di ponselnya.
Tidak pernah mengirim pesan. Hanya membaca. Kadang sampai jauh ke atas.
Ke masa ketika Hendro masih menulis: “Sudah makan?.”
Atau: “Jangan tidur terlalu malam.”
Kalimat-kalimat sederhana yang sekarang terasa lebih mahal daripada janji setia.
Foto itu juga masih ada.
Suatu malam, Nadia mengeluarkannya dari laci.
Ia duduk di sisi ranjang. Lampu hanya menyala dari meja kecil di samping tempat tidur.
Ia memperhatikan wajah Hendro.
Lalu wajahnya sendiri.
Dua orang yang saling mencintai sedang tersenyum di depan laut.
Nadia mencoba mengingat apa yang mereka bicarakan setelah foto itu diambil.
Tentang rumah?
Tentang pernikahan?
Tentang perjalanan berikutnya?
Ia tidak ingat!.
Yang ia ingat hanya suara Hendro tertawa.
Dan untuk pertama kalinya, Nadia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa lebih berat.
Foto itu tidak pernah berbohong. Keduanya memang merasakah kebahagian. Yang berubah adalah orang-orang di dalamnya.
Nadia kembali menaruh foto tersebut ke dalam laci, dan ia berbaring sambil menyelami perasaannya.
Tak terasa hampir setahun kemudian, nomor Hendro itu muncul di layar ponselnya.
Nadia membiarkan telepon berdering. Tak ada rasa ingin menjawabnya. Ponsel terus berdering hingga akhirnya berhenti.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk. “Aku mau ketemu. Ada sesuatu yang harus kukembalikan.”
Nadia membaca pesan itu dua kali.
Kemudian mereka bertemu keesokan sore di sebuah kedai kecil tempat mereka dulu biasa bertemu dan menghabiskan rindu.
Hendro datang lebih dulu. Nadia hampir tidak mengenalinya. Ia nampak berbeda, rambutnya lebih pendek. Wajahnya lebih kurus, ia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak tidur dengan tenang.
Hendro bertanya, “Apa kabar ?.”
“Baik,” Jawab Nadia.
Jawaban paling mudah.
Hendro mengangguk.
Mereka diam.
Kemudian Hendro berkata, “Aku dengar kamu masih sering lewat daerah rumahku”.
“Kadang”, sahut Nadia sambil mengangguk.
“Kenapa?,“ Hendro coba memancing.
Nadia menatapnya, kemudian menjawab apa adanya. “Karena itu jalan pulang dari kantor.”
Hendro tersenyum tipis.
Dulu Nadia menyukai senyum itu. Sekarang dia merasa senyum itu biasa saja.
Hendro mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah amplop cokelat. Kemudian diletakkannya di atas meja. “Aku nemu ini waktu beresin barang.”
Nadia membuka amplop itu.
Di dalamnya ada beberapa foto lama. Foto ulang tahun Nadia. Foto Hendro saat pertama kali diterima bekerja. Foto mereka makan di sebuah cafe ketika Nadia mendapatkan gaji pertama. Dan foto dari pantai itu. Foto yang sama dengan yang ada di dalam lacinya.
Nadia memegangnya dengan dua jari.
Hendro melihat foto tersebut. “Aku masih ingat hari itu,” Hendro berkata.
Nadia mengangguk.
“Aku juga.”
“Waktu itu aku bahagia,” sambung Hendro.
Nadia menatap foto.
“Kita bahagia.” Nadia mempertegas.
Hendro terdiam.
Menarik nafas.
Ada masa ketika mereka sungguh-sungguh mencintai satu sama lain. Hanya saja, cinta itu tidak selalu cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal.
“Aku salah,” kata Hendro kemudian.
Nadia diam.
Hendro kembali berkata, “Aku kira waktu itu aku cuma butuh sesuatu yang baru.”
Ia menunduk. “Ternyata aku salah” lanjutnya.
Nadia memandang Hendro.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya menangis.
Sekarang tidak!.
“Aku nggak datang buat minta kamu balik, “lanjut Hendro. “Aku cuma mau bilang maaf.”
Nadia mengangguk, sambil berkata “Sudah.”
“Hah?,” tanya Hendro, sambil menatap wajah Nadia
“Sudah kumaafkan,” Nadia menjawab.
Namun Nadia cepat-cepat berkata untuk membuang harapan yang mungkin saja muncul. “Tapi bukan berarti aku mau mengulanginya. Yang sudah berakhir, biarlah berakhir”
Hendro mengangguk perlahan. “Aku mengerti.”
Kemudian beberapa waktu ke depan, mereka berpisah tanpa pelukan. Tanpa kalimat bahwa suatu hari mereka mungkin bertemu lagi. Atau bahkan bisa bersama lagi. Kedia berpisah dengan sebuah lambaian tangan.
Nadia membawa amplop itu pulang.
Malamnya, ia duduk di meja kamar dan mengeluarkan semua foto dari dalamnya.
Satu per satu dia memandang isi foto tersebut.
Ia melihat dirinya yang dulu. Gadis yang tertawa terlalu lepas. Gadis yang percaya pada janji tentang masa depan yang indah.
Lalu ia mengambil foto pantai itu. Lama ia memandanginya.
Dulu Nadia menyimpan foto itu karena takut kehilangan kenangan. Sekarang ia menyadari bahwa kenangan tidak membutuhkan tempat khusus untuk tetap ada.
Ia juga tidak harus terus memegangnya, dan mengingatnya. Karena kenangan akan terus ada, dan akan tetap teringat di dalam suduh hati.
Nadia membuka laci. Kemudian ia memasukkan foto-foto lainnya ke dalam kotak kecil.
Dan, menutupnya. Lalu menyimpannya di bagian paling bawah lemari.
Bukan dibuang. Bukan pula disembunyikan. Hanya diletakkan di tempat yang tidak perlu ia lihat setiap hari. Karena sebuah kenangan memang harus dibiarkan berlalu, hari depan masih membentang dengan misteri di dalamnya.
Sebelum tidur, Nadia membuka jendela.
Udara malam masuk perlahan. Menyentuhnya dengan rasa dingin.
Dari kejauhan terdengar suara kereta melintas. Seperti kereta tersebut, Nadia harus terus melintas bersama hari membuka misteri baru kehidupan yang ada di depannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ada rasa lega yang mengalir perlahan. Ia tersenyum kepada malam.
Nadia menutup jendela dan kemudian berbaring.
Memejamkan mata.
Di dalam lemari, sebuah kotak kecil menyimpan foto dua orang yang pernah percaya bahwa mereka akan menua bersama. Foto itu tidak berubah. Asin rasa air lautnya masih sama. Namun perasaan Nadia sudah tidak lagi sama.
Dan memang itu yang seharusnya terjadi, dimana beberapa kenangan seharusnya ditinggalkan. Dan dibiarkan berlalu bersama waktu. Seperti kereta yang terus berlalu menuju stasiun pemberhentian selanjutnya.
Perlahan lelap datang memeluk Nadia yang mulai tenggelam bersama gelap dalam tidurnya.
Sekarang mari kita dengarkan lagu: Penyesalan Pedih dari Musik Iseng ID . . . . . . . .
Butuh Hosting Murah?Dapatkan Paket Hosting Murah Untuk Kebutuhan Bisnis Online, Harga Mulai Dari RP. 100 RIBU per tahun [Hosting Murah]
Jasa Pembuatan Website Murah?Butuh Website? Dapatkan Paket Pembuatan Website Murah Harga Mulai Rp. 299 RIBU. Sudah Berpenglaman Sejak Tahun 2007, Dengan Jumlah Klien Dari Jakarta Hingga Papua [Web Design Murah]












