Seperti ada suara halus yang membisiki telinganya tepat tengah malam Aryo perlahan memasuki alam jaganya, dengan malas dia bangun dari tidur. Mengerjap-erjapkan matanya, kemudian mengucak beberapa kali kelopak matanya sebelum jemarinya mengambil handphone dan melihat tanda waktu.

“Anjrit baru jam dua belas” makinya dalam hati,









 

Sudah selama seminggu ini, sejak malam jumat kemarin dia selalu terbangun tepat tengah malam. Sepertinya ada suara halus yang membangunkannya, suara halus seperti apa diapun tidak tahu. Angannya berkejaran dengan kenangan-kenangannya, tiba di salah satu ruas memory teringatlah akan kisah horor dari film-film yang pernah ditontonnya. “Jangan. . .  jangan. . .” terbayang wajah kuntinak dan pocong serta genderuwo.

“Weit… hus. . . hus. ..hus”, Ditepisnya semua gambaran dari flm yang muncul kepermukaan alam jaganya, kemudian Aryo bangun menuju kamar mandi. Kencing dengan nikmatnya, dirasakan olehnya kencing itu adalah nikmat yang tiada tara namun amat jarang disyukuri olehnya. Karena memang sejak kecil sudah terbiasa mensyukuri apa yang masuk ke dalam mulut, ketimbang mensyukuri apa yang keluar lewat kemaluan dan dubur. Padahal kalau tidak bisa kencing apa lagi berak, deritanya bukan main. Ah, disadari kekonyolannya yang memisahkan-misahkan rasa syukur, bloon sekali !.

Kemudian di cuci wajahnya dengan sabun pembersih wajah, air dingin mengguyur wajahnya memberikan sensasi kesegaran tersendiri.

Kemudian di seduhnya capucino, aromanya mengepul ke udara. Sambil menunggu capucino sedikit lebih hangat, Aryo masuk ke ruang meditasi. Di bakarnya dupa untuk mengharumkan ruangan, temaram suasana hening ruang meditasi membuat Aryo ingin sejenak duduk mengheningkan diri melupakan aroma capucino yang memanggil-manggil bibir untuk menyeruput dan menikmati kental rasa khasnya.

Dari satu tarikan nafas ke satu hembusan nafas berikutnya, Aryo masuk ke dalam lapisan hening  yang lebih dalam. Setiap satu tarikan nafas ke satu hembusan nafas berikutnya, membawa Aryo masuk ke dalam alam hening lebih dalam lagi.

Namun kemudian alam hening itu tidak lagi menjadi hening, karena perlahan menjadi berbentuk. Perlahan berbentuk dan menjadi nyata, dari satu tarikan nafas ke hembusan nafas berikutnya bentuk itu semakin nyata meski masih tetap samar. Dan di dalam samar itu tersapa satu sosok yang tak asing lagi, sosok itu dikenalinya sebagai Petruk.

Ya, Petruk. Sosok itu memang benar-benar sosok Petruk.

Petruk adalah anak Semar, petruk dipercaya adalah merupakan penguasa alam ghaib yang bertahtah di kaki gunung merapi di daerah sleman sana, Aryo mendesah “Ngapain gua nyasar ke gunung merapi, gila!. Yang bonafid-tan dikit kek, nyasar ke Tibet ketemu sama Lama atau ke sungai Gangga kek biar ketemu orang suci, eh ini ke gunung merapai, aje gile!. Dasar orang lokal ketemunya juga ya ama yang lokalan”

Sudah  terlanjur tersasar ke gunung merapi, di sapanya Petruk dengan penuh hormat karena pasti ada maksudnya samape ketemu saya sosok yang satu ini.

“Selamat malam ki lurah Petruk”.

Petruk yang semula sedang bertopang dagu memandang bintang-bintang  malam, melirik ke Arah Aryo dengan pandagan mata acuh, kemudian dia melemparkan senyum kecil. Dan kembali memutar wajahnya kembali ke dalam topangan dagunya sambil memandang bintang malam.

“lagi ngapain sih ki lurah, kok serius amat” goda Aryo sambil duduk dekat sosok Petruk,

Petruk kemudian kembali memandang wajah Aryo, beberapa saat kemudian Petruk berkata. “Hatiku sedih melihat manusia di bawah sana”.

Aryo menggaruk-garuk kepalanya, “Perasaan saya ki lurah sedang melihat bintang diatas sana, kok malah jadi sedih sama yang dibawah sana gimana ceritanya ki ?”

“Ya pandagan mataku memang sedang memandang gemerlap bintang diatas sana, namun hatiku sedang memandang manusia dibawah sana”

“Oke, terserah ki lurah deh. Kalau boleh tahu kenapa ki lurah merasa sedih dengan manusia dibawah sana ?”

Petruk menarik nafasnya dalam-dalam mengisi rongga dada,  ditahannya sejenak udara itu di paruh dadanya baru kemudian menghembuskannya perlahan.

“Hati ku sedih karena hanya segelintir manusia yang dapat mengetahui siapa jati dirinya, dan juga hanya sedikit manusia yang benar-benar berupaya untuk mengetahui jati dirinya” ujarnya beberapa saat kemudian.

Petruk diam sejenak, sebelum kembali berkata sambil memandang jauh ke lereng gunung merapi. Petruk tengadah memanang langit dan kemudian memutar wajahnya memandang wajah Aryo kemudian kembali berkata.  “Mereka yang sedang berupaya untuk mencari jati diri malah dimusuhi, malah dianggap aneh, malah dianggap sesat. Mereka yang sedang menyuarakan perdamaian dan keselarasan dengan semesta justeru dianiaya, justeru disakiti”.

Aryo manggut-manggut sambil memandangi wajah Petruk yang ganjil namun tiap lekuknya begitu sempurna membentuk lekuk wajah yang tiada dua.

“Terlalu banyak manusia dibawah sana yang sudah terjajah pikirannya, namun merasa dirinya telah menemukan kemerdekaan. Saking merdekanya mereka merusak tatanan alam ini, mereka tidak mengerti bahwa apa yang sedang mereka lakukan cepat atau lambat akan kembali kemereka sendiri. Mereka merusak tatanan alam, maka alam akan merusak tatanan kehidupan mereka”.

“Hukum sederhana seperti itu sudah dilupakan oleh mereka, tergantikan oleh filsafat yang menyesatkan alam jaga. Merasa paling benar padahal nyatanya jauh dari benar, jikalau mereka mayoritas yang  merasa diri paling benar itu memang benar seperti apa yang mereka anggap maka dunia ini tidak akan seperti ini”

Petruk diam,

Angin malam pegunungan membelai menyisakan beku sebeku pikiran Aryo yang tak tahu harus menanggapi apa perkataan Petruk penguasa ghaib yang bersemayam di gunung merapi itu, karena memang itu lah yang sebenarnya tengah terjadi saat ini dimana manusia sudah tercerai beraikand ari kemanusiaan dirinya sendiri.

Bersambung . . . . .







Butuh Hosting Murah? Dapatkan Paket Hosting Murah Untuk Kebutuhan Bisnis Online, Harga Mulai Dari RP. 100 RIBU per tahun [Hosting Murah]


Jasa Pembuatan Website Murah? Butuh Website? Dapatkan Paket Pembuatan Website Murah Harga Mulai Rp. 299 RIBU. Sudah Berpenglaman Sejak Tahun 2007, Dengan Jumlah Klien Dari Jakarta Hingga Papua [Web Design Murah]